Desa Semagung
Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo
Mengenal Lebih Dekat Selamatan Suran: Simbol Syukur dan Tolak Bala
Di tengah derasnya arus modernisasi yang kian pesat, nilai-nilai luhur budaya sering kali perlahan terlupakan oleh zaman. Namun, pemandangan yang berbeda dan menyejukkan hati masih dapat kita temukan di lingkungan kita. Kearifan lokal dan adat istiadat warisan para leluhur masih terus bernapas, dihayati, dan dijaga dengan penuh rasa bangga.
Berbagai kebiasaan turun-temurun ini bukan sekadar rutinitas tahunan tanpa makna, melainkan sebuah identitas kultural yang memperkuat harmoni sosial dan ikatan spiritual antarwarga. Salah satu pilar penopang kebersamaan yang terus memperkokoh tali persaudaraan tersebut adalah Tradisi Masyarakat Desa Semagung, yang hingga detik ini rutin diselenggarakan oleh seluruh lapisan warga dengan penuh antusiasme. Di antara beragam kekayaan budaya yang kita miliki, Tradisi Selamatan Suran menjadi salah satu momen spiritual yang paling istimewa.
Berbicara mengenai pelestarian kearifan lokal, Kenduri Suran merupakan agenda penting yang pelaksanaannya selalu dijaga dengan penuh kekhidmatan. Ritual adat ini secara rutin diselenggarakan pada bulan Muharram dalam penanggalan Hijriah, dan secara spesifik dilaksanakan pada tanggal 12.
Istilah “Suran” sendiri telah melekat begitu kuat dalam denyut nadi kebudayaan kita. Kata ini berakar dari kata “Suro”, yang merupakan sebutan akrab dan kearifan lokal masyarakat Jawa untuk menyebut bulan Muharram. Jika ditelusuri lebih jauh ke dalam akar sejarah dan bahasanya, kata Suro sejatinya merupakan serapan dari bahasa Arab, yakni “Asyura”, yang memiliki arti sepuluh (10).
Lalu, mengapa angka sepuluh atau tanggal 10 Muharram (Hari Asyura) ini begitu bermakna sehingga menjadi rujukan perayaan agung umat Islam? Dalam lembaran sejarah, tanggal 10 Muharram dikenal sebagai hari kemenangan dan momen keselamatan luar biasa yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada para nabi. Beberapa peristiwa bersejarah yang melatarbelakangi kemuliaan hari tersebut meliputi:
-
Keselamatan Nabi Musa AS beserta kaum Bani Israil dari kejaran pasukan Firaun, yang ditandai dengan mukjizat terbelahnya Laut Merah.
-
Momen berlabuhnya bahtera Nabi Nuh AS dengan selamat di Bukit Zuhdi setelah bumi dilanda musibah banjir besar.
-
Selamatnya Nabi Ibrahim AS dari kejamnya kobaran api Raja Namrud.
-
Dikeluarkannya Nabi Yunus AS dalam keadaan selamat dari dalam perut ikan paus.
Peristiwa-peristiwa agung para utusan Allah tersebut bukan sekadar rentetan cerita masa lalu, melainkan menjadi landasan spiritual yang menginspirasi pelaksanaan ritual di desa. Manfaat dari tradisi ini sangat terasa dan berdampak langsung bagi seluruh warga. Di momen inilah, acara Kenduri Suran menjadi wadah di mana masyarakat dari berbagai kalangan bisa berkumpul menjadi satu dalam kehangatan keluarga besar.
Warga duduk bersama memanjatkan doa dengan satu tujuan mulia: memohon keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat. Tradisi ini menjadi medium spiritual untuk tolak bala, sebuah munajat agar seluruh warga dan lingkungan desa senantiasa dijauhkan dari segala macam musibah, penyakit, maupun bencana. Lebih dari itu, kumpul bersama ini adalah puncak pengungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat, kesehatan, rezeki, dan kedamaian yang telah dianugerahkan sepanjang tahun.
Kekayaan budaya seperti Selamatan Suran ini adalah aset tak benda yang menyatukan jiwa seluruh warga. Kemajuan sebuah wilayah sejatinya tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur fisiknya semata, tetapi juga dari seberapa kuat warganya berpegang teguh pada nilai-nilai luhur dan spiritualitas yang diwariskan leluhur.
Oleh karena itu, mari kita terus bahu-membahu dan bergandengan tangan untuk melestarikan Tradisi Masyarakat Desa Semagung ini. Jangan sampai adat budaya yang sarat akan makna filosofis dan doa kebaikan ini memudar di tengah derasnya perubahan zaman. Mari ajak anak-anak dan generasi muda kita untuk ikut serta dalam setiap pelaksanaannya. Dengan merawat tradisi, kita tidak hanya sedang menjaga sejarah, tetapi juga sedang merajut masa depan desa yang damai, tenteram, sejahtera, dan selalu berada di bawah lindungan Allah SWT.



Mas Mahmud
02 Juli 2025 16:28:55
Wah... Sangat bermanfaat sekali, terimakasih pak informasinya ...