Desa Semagung
Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo
Puskesmas Dadirejo Gelar Sosialisasi Kesehatan Gigi dan Mulut pada Kelas Balita Desa Semagung
SEMAGUNG – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan gigi dan mulut sejak dini terus dilakukan oleh tenaga kesehatan. Hal ini terlihat dalam kegiatan Sosialisasi Kesehatan Gigi dan Mulut yang disampaikan oleh tenaga kesehatan dari Puskesmas Dadirejo, Ibu Arisa Chandra Pusparini, pada kegiatan Kelas Balita yang diikuti oleh para ibu dan balita di Desa Semagung.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Bidan Desa Semagung, Ibu Heni, para kader kesehatan, serta para ibu yang membawa balita. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi anak sejak dini serta cara merawat gigi yang benar.
Dalam pemaparannya, Ibu Arisa menjelaskan bahwa pemeriksaan gigi secara rutin sangat penting dilakukan minimal setiap enam bulan sekali. Hal ini karena proses terbentuknya gigi berlubang seringkali tidak menimbulkan rasa sakit pada tahap awal sehingga banyak orang tidak menyadarinya.
“Jika lubangnya masih kecil, biasanya tidak terasa. Namun di puskesmas tersedia alat khusus untuk mendeteksi adanya lubang pada gigi. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin sangat dianjurkan agar kerusakan gigi dapat diketahui sejak dini,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa lubang kecil pada gigi tidak boleh dianggap sepele. Pada beberapa kasus, lubang yang terlihat kecil di bagian luar ternyata sudah mengalami keropos yang cukup luas di bagian dalam gigi. Hal ini disebabkan lapisan luar gigi atau email yang cukup keras sehingga kerusakan di dalamnya sering tidak terlihat.
“Jika gigi berlubang terkena makanan keras, gigi bisa langsung pecah karena bagian dalamnya sudah keropos,” tambahnya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa terdapat beberapa tanda tingkat keparahan gigi berlubang. Jika seseorang belum merasakan sensasi apa pun ketika makan atau minum panas dan dingin, kemungkinan kerusakan masih berada pada lapisan pertama. Namun jika gigi mulai sensitif terhadap suhu panas atau dingin, kemungkinan kerusakan sudah mencapai lapisan kedua atau karies.
Sedangkan pada lapisan ketiga, lubang gigi biasanya sudah besar dan rasa nyeri yang muncul ketika terkena makanan atau minuman dingin dapat berlangsung cukup lama. Jika kondisi ini terjadi, maka diperlukan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.
Untuk gigi berlubang yang masih aktif, biasanya akan dilakukan tindakan pemberian obat khusus di puskesmas untuk menonaktifkan bakteri penyebab kerusakan gigi. Setelah pemberian obat, pasien bisa merasakan nyeri berdenyut selama sekitar satu hingga dua jam, namun hal tersebut merupakan bagian dari proses penanganan.
Pada kesempatan tersebut, Ibu Arisa juga menjelaskan tentang pertumbuhan gigi anak. Umumnya anak usia 3–5 tahun sudah memiliki gigi susu yang lengkap. Ketika memasuki usia sekitar 6 tahun, akan mulai tumbuh gigi permanen di bagian belakang yang sering disebut sebagai gigi tetap pertama.
“Gigi susu memiliki peran penting karena menjadi penunjuk arah tumbuhnya gigi permanen. Oleh karena itu, walaupun hanya gigi susu, tetap harus dirawat dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa balita yang baru mulai tumbuh gigi harus tetap dibiasakan menjaga kebersihan gigi. Orang tua dapat menggunakan sikat gigi silikon khusus balita, baik yang menggunakan gagang maupun tanpa gagang. Kebiasaan menyikat gigi sebaiknya dilakukan dua kali sehari, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur.
Selain itu, pemilihan sikat gigi juga perlu diperhatikan. Saat ini tersedia berbagai jenis sikat gigi seperti super soft, soft, medium, dan hard. Untuk anak-anak dianjurkan menggunakan sikat gigi dengan bulu soft atau super soft agar tidak melukai gusi.
Ibu Arisa juga memberikan edukasi mengenai cara menyikat gigi yang benar, yaitu menyikat gigi selama minimal dua menit, menggunakan sikat berbulu halus dan pasta gigi yang mengandung fluoride. Sikat gigi diarahkan dengan sudut sekitar 45 derajat ke arah gusi, kemudian dilakukan gerakan memutar secara lembut untuk membersihkan seluruh permukaan gigi.
Beberapa langkah penting dalam menyikat gigi antara lain membersihkan bagian luar gigi, bagian dalam gigi, serta permukaan kunyah pada gigi geraham. Selain itu, lidah juga perlu dibersihkan untuk mengurangi bakteri penyebab bau mulut. Setelah menyikat gigi, dianjurkan berkumur cukup satu kali saja agar sisa fluoride dari pasta gigi tetap menempel dan memberikan perlindungan pada gigi.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan beberapa tips tambahan, di antaranya menunggu sekitar 30–60 menit setelah mengonsumsi makanan asam sebelum menyikat gigi, serta mengganti sikat gigi maksimal setiap tiga bulan sekali.
Ke depan, Puskesmas Dadirejo juga berencana melaksanakan program Cek Kesehatan Gigi (CKG) yang akan menyasar anak-anak di sekolah-sekolah wilayah kerja puskesmas. Program ini direncanakan berlangsung pada April 2026.
Dalam kegiatan tersebut, petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan gigi secara langsung di sekolah. Apabila ditemukan anak yang memerlukan penanganan lebih lanjut, maka akan diberikan rujukan untuk diperiksa di Puskesmas Dadirejo.
“Kami berharap orang tua dapat menindaklanjuti rujukan tersebut dengan membawa anak ke puskesmas agar kerusakan gigi tidak semakin parah,” jelasnya.
Sementara itu, Bidan Desa Semagung, Ibu Heni, juga menyampaikan informasi terkait peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit campak pada anak. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, kasus suspek campak sempat meningkat pada Januari 2026 dan mulai menurun pada Februari 2026.
Menjelang masa libur panjang dan mudik Lebaran, masyarakat diimbau tetap waspada karena meningkatnya mobilitas dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah tengah mempercepat pelaksanaan program Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign imunisasi campak-rubella (MR) bagi anak usia 9 hingga 59 bulan di berbagai daerah.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan para orang tua semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan gigi anak sekaligus memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap demi mendukung tumbuh kembang yang sehat.
Kegiatan Kelas Balita ini menjadi salah satu bentuk komitmen bersama antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatan anak sejak usia dini.



Mas Mahmud
02 Juli 2025 16:28:55
Wah... Sangat bermanfaat sekali, terimakasih pak informasinya ...