Desa Semagung
Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo
Menjaga "Watu Lonthong" Semagung: Antara Warisan Sejarah dan Semangat Kebersamaan
SEMAGUNG – Desa kita ternyata menyimpan rahasia besar dari masa lalu. Di tengah gempuran zaman modern, sebuah benda bersejarah yang disebut warga sebagai "watu lonthong" atau stamba kembali menjadi pusat perhatian. Benda yang ditemukan di Dusun Semagung Wetan ini bukan sekadar batu biasa, melainkan jejak peradaban yang sangat tua.
Pada Sabtu, 25 April 2026, suasana di Balai Budaya Pasareyan Eyang Lowo Ijo tampak lebih ramai dari biasanya. Lebih dari 120 orang, mulai dari adik-adik pelajar, tokoh masyarakat, hingga pejabat pemerintah, berkumpul dalam acara diskusi kebudayaan bernama "Tuladha #6"
Acara yang digelar oleh Lesbumi PCNU Purworejo ini mengangkat tema "Living Heritage" atau warisan yang hidup. Intinya, warisan budaya kita tidak boleh hanya jadi pajangan di museum, tapi harus terus memberi manfaat dalam doa, kesenian, hingga ekonomi warga sehari-hari.
Berdasarkan penjelasan para ahli, "watu lonthong" tersebut diduga kuat berasal dari zaman Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. Sayangnya, kondisi batu bersejarah ini sekarang cukup memprihatinkan karena terancam oleh alam dan aliran sungai.
Arkeolog Lengkong Sanggar Ginaris mengingatkan kita bahwa merawat batu ini sama dengan menyambung hubungan dengan para leluhur kita. Selain itu, sejarah ini bisa menjadi inspirasi untuk industri kreatif dan membuat kita lebih bangga dengan asal-usul desa kita sendiri.
Langkah Nyata untuk Masa Depan
Kabar baiknya, pemerintah tidak tinggal diam. Kabid Kebudayaan Dindikbud Purworejo, Agung Setiyono, menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan survei awal. Rencananya, pada tahun mendatang akan dianggarkan dana untuk penyelamatan stamba tersebut. Bahkan, pada tahun 2027, akan didorong adanya Peraturan Daerah (Perda) Cagar Budaya agar perlindungannya semakin kuat.
Selain diskusi, aksi nyata juga dilakukan dengan:
Penanaman Pohon: Menanam bibit pohon jenis ficus di bantaran sungai sebagai simbol menjaga alam ciptaan Allah.
Wakaf Literasi: Pemberian donasi Al-Qur’an dan buku bacaan dari Gramedia Yogyakarta untuk masjid dan rumah baca di Desa Semagung.
Pesan untuk Kita Semua
Ketua PCNU Purworejo, KH. Muhammad Haikal, berpesan bahwa menjaga budaya adalah bagian dari menjaga agama. Beliau berharap diskusi ini tidak berhenti di obrolan saja, tapi menjadi gerakan nyata.
Harapan warga, kedepannya lokasi ini bisa dikelola bersama menjadi wisata religi. Dengan begitu, ekonomi warga bisa tumbuh, dan spiritualitas kita pun semakin kuat. Yuk, kita jaga bareng-bareng warisan leluhur kita!
Sumber Informasi:
Klik Indonesia (27 April 2026): "Lestarikan Warisan Leluhur, Rawat Iman dan Budaya: Tuladha #6 Lesbumi PCNU Purworejo Angkat Semangat Living Heritage"
NU Online Jateng (27 April 2026): "Lesbumi NU Purworejo Angkat Isu Living Heritage, Dorong Penyelamatan Stamba Semagung".



Mas Mahmud
02 Juli 2025 16:28:55
Wah... Sangat bermanfaat sekali, terimakasih pak informasinya ...